Berita Toleransi

Mahasiswa Lintas Agama Belajar Jejak Toleransi dari Balinuraga, Sultra dan Buleleng

Sebelas tahun silam, konflik bernuansara SARA merubah wajah Balinuraga, Lampung. Sentimen agama dan sukuisme yang dipantik masalah sepele melebar kemana-mana. Kini, suasana sudah guyub kembali. Warga pribumi dan pendatang bersatu, membangun silahturahmi dan merasut asa untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Setidaknya pesan itu yang bisa ditangkap dari pemamaparan Dewi Yunairi, tokoh muda asal Pringsewu, Lampung saat memberikan materi Menguak Toleransi di Lampung di sela kegiatan Rumah Moderasi Mahasiswa (RMM) dalam Webinar Literasi Publik Toleransi Beragama Kamis (24/9/2023) yang digagas oleh Indika Foundation dan Acarya Media Nusantara (AMN).

Hadir narasumber lainnya  Putu Dana Yasa dari Penyululuh Kementerian Agama di Sulawesi Tenggara, dan akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja I Putu Mardika dan IGA Ngurah Agung Yudha Pramiswara . Lebih Jauh Dewi menceritakan secara kronologis konflik yang merenggut korban jiwa dan kerugian materil yang besar.

Konflik kata Yunairi yang juga pengurus di Acarya Media Nusantara tersebut mengungkapkan bahwa bermula dari persoalan yang diduga pelecehan seksual yang dilakukan oleh warga pendatang. Padahal, kenyataan di lapangan tidaklah demikian adanya. Namun, isu tersebut beredar luas dengan cepat dan tak terbentuk. Warga lokal yang tak terima naik pitam dan pada akhirnya membabi buta, menyerang warga dan perkampungan transmigran tanpa melakukan dialog terlebih dahulu.

“Konflik Balinuraga terjadi tidak lain karena  sikap arogansi, egois, keras kepala dengan dilengkapi berpakaian adat menyerang pihak lawan, sehingga membuat terakumulasi kebencian, kekecewaan dan dendam bagi pihak korban.”

Pasca konflik Pemerintah Daerah dan berbagai tokoh setempat melakukan rekonsiliasi. Mereka berkomitmen untuk menjaga kedamaian dan melahirkan piagam perdamaian kedua yang diikrarkan pada tanggal 4 November 2012. Bahkan, kata Yunairi Piagam Perdamian tersebut menegaskan sanksi pengusiran bagi warga Lampung Selatan yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan yang dibuat.

BACA JUGA: 

“Piagam Perdamaian tersebut direspon positif oleh Desa Balinuraga dengan membuat peraturan adat bernama wewegawe dan mengintensifkan kegiatan pasraman bagi muda mudi sebagai penguatan moral dan keagamaan.”

Sementara itu Putu Dana Yasa mengakui kehidupan beragama di Sulawesi Tenggara yang multikultur dan multietnis sejauh ini maish kondusif. Menurutnya peran dialog-dialog keagamaan yang digelar oleh Kementerian Agama menjadi katalisator untuk menumbuhkan sikap moderat dan saling menerima antar warga, baik pendatang maupun pribumi.

Misalanya saja program kampung moderasi dan kelurahan sadar kerukunan menjadi program-program prioritas yang disinergikan dengan warga agar terlibat secara langsung. Sebagai seorang penyuluh agama ke desa-desa di Sulawesi Tenggara, Dana Yasa bersyukur kesadaran Masyarakat yang tinggi akan toleransi dan kearifan lokal menjadi nilai tersendiri dalam kehidupan beragama di Sulawesi Tenggara.

Nilai-nilai seperti Metila To Tepokona (bersatu kita rukun), Measa To Mokora (bersatu kita kuat), dan Meronga To’ori Cita (Bersama kitab bisa) kata alumni UHN I Gusti Bagus Sugriwa tersebut modal sosial dan pengikat yang kuat bagi warga lokal dalam menjalakan kehidupan yang multikultur.

“Komitmen untuk merawat kebhinekaan sejauh ini berjalan dengan baik dengan kearifan lokal dan dialog yang intens dilakukan oleh para tokoh,”katanya.

Hal serupa juga dijelaskan oleh I Putu Mardika dalam jejak toleransi di Kabupaten Buleleng. Sebagai wajah multikultur di Bali Utara, Buleleng terbuka dengan siapapun. Adopsi kebudayaan dan agama membentuk akumulasi histori toleransi yang panjang. Jejak-jejak toleransi di Buleleng bisa dijumpai pada Pura Negara Gambur Anglayang, Masjid Agung  Jami Agung dan kehidupan sosio kultur.

Sementara IGA Ngurah Agung Yudha Pramiswara menekankan para mahasiswa yang mengikuti program Rumah Moderasi Mahasiswa menumbuhkembangkan sikap   moderat dan toleran terhadap kearifan lokal di Indonesia yang begitu khas dan otentik. (r)

BACA JUGA:  PWP Widya Candra Menjadi TK Hindu Ke-9 Di Sulawesi Tenggara

 

 

Redaksi MH 1
Author: Redaksi MH 1

Melek Hindu merupakan situs online yang memiliki misi untuk pengembangan literasi Hindu di Indonesia. Selain menyampaikan beragam informasi atas keberadaan Hindu yang multikultur di Nusantara, melek Hindu memberikan perspektif dan gagasan mengenai Kehinduan yang lebih kontekstual dan dinamis.

Melek Hindu merupakan situs online yang memiliki misi untuk pengembangan literasi Hindu di Indonesia. Selain menyampaikan beragam informasi atas keberadaan Hindu yang multikultur di Nusantara, melek Hindu memberikan perspektif dan gagasan mengenai Kehinduan yang lebih kontekstual dan dinamis.